Menangis Di Bulan Oktober

 

Pemain timnas terpukul saat kalah melawan Arab Saudi(sumber poto:Kompas.com/AFP)


Ronde empat kualifikasi Piala Dunia 2026 telah usai, dua kali bertanding, dua kali pula timnas kena kepret negara negara Timur Tengah,kalah 2-3 melawan tuan rumah Arab Saudi, kemudian harus berhadapan dengan Irak, namun apa daya tim kebanggaan kita semua, kalah menyakitkan melawan Irak, dipaksa menyerah 1-0.

180 menit di dua laga grup B ronde 4,seakan menjadi anti klimaks,akan keyakinan besar bahwa Indonesia akan melangkah lebih jauh untuk helatan Piala Dunia 2026,namun apa daya meski diperkuat oleh para pemain keturunan,asa tampil di piala dunia harus musnah.

Dilatih Shin Tae Young,mulai dari bukan tim yang diperhitungkan,merangkak dari ronde pertama kemudian bersaing dengan dua negara ASEAN pada ronde kedua,plus melawan Irak.Namun akhirnya tim besutan pelatih dari Korea Selatan, membawa sejarah baru yakni lolos ke ronde tiga.

Timnas semakin gercep bermain bal balan,setelah pemain keturunan ikut joint untuk memperkuat skuad merah putih,selain itu racikan coach membuat timnas makin trengginas. Meski bukan kali pertama PSSI melakukan naturalisasi,atau memanggil pulang pemain keturunan, sejujurnya ada perbedaan signifikan ketika mereka memperkuat timnas.

Pada akhirnya kita menyaksikan,kolaborasi pemain keturunan serta pemain lokal yang seumur umurnya besar dan berlatih bola di tanah air,melebur menjadi kekuatan yang terpadu. Di ronde dua saat dua kali jumpa Vietnam, baik kandang dan tandang mampu timnas benamkan dengan skor 1-0 dan 3-0.

Sebagai runner up grup F babak kualifikasi zone Asia,Indonesia berhak lolos ke ronde ketiga,satu satunya wakil ASEAN yang mampu melakukan hal tersebut, dua wakil ASEAN pernah berada di ronde ketiga kualifikasi,namun Thailand dan Vietnam hanya jadi bulan bulanan negara negara kuat Asia.

Gairah Nonton Timnas di Ronde Tiga

      Antusiasme dukungan suporter Indonesia untuk timnas(sumber poto: instagram @lagrandeindonesia12)

Masuk sebagai negara dengan pot paling bontot,tentu saja Indonesia nggak dianggap negara mampu bersaing,ada Jepang si samurai biru,kemudian Australia, Bahrain dan China.Bahkan publik tanah air tidak begitu yakin kans Garuda mampu berbuat banyak.

Namun tak dinyana tiga laga awal bermain,Garuda mampu mendulang tiga poin,saat bermain imbang lawan Saudi Arabia,Australia dan Bahrain, kalau nggak dikerjain wasit rasanya tiga poin di dapat saat jumpa Bahrain. Namun sayang ketika jumpa China, timnas memperpanjang rekor kekalahan atas negeri tirai bambu dengan skor 2-1.

November tanggal 15 tahun 2024,tim samurai biru bertandang ke GBK,apa daya Jepang terlalu perkasa dan mereka menang 4-0.Berselang empat hari kemudian GBK bergemuruh,ketika brace Marsellino menenggelamkan Arab Saudi dengan skor 2-0, kemenangan penting menjaga asa menuju piala dunia.

Namun mendadak PSSI memecat Shin Tae Young, digantikan pelatih yang menerima tawaran kerja ketika natal tiba,seluruh staf diganti dan timnas memiliki "Belanda Connection".Patrick Kluivert menjadi pelatih kepala saat performa timnas stabil ditangan coach Shin, ujian pertama Patrick saat melawan Australia.

Namun dibawah pelatih Belanda yang cuma bisa mesem mesem di bench,Australia sebagai tuan rumah menggelontorkan lima gol, saat di Jakarta di tahan imbang, justru kena bantai di Allianz Stadium Sydney dengan skor telak 5-1. Beruntung dua pertandingan home melawan Bahrain dan China mampu menang.

Kualifikasi Piala Dunia 2025, bagi timnas akan menjadi kenangan indah, betapa sepak bola tanah air menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia, setiap timnas melakukan pertandingan tandang apalagi kandang, antusiasme penonton begitu bersemangat untuk mendukung.


Anomali Taktik Round Empat

Pelatih yang gagal antarkan timnas menuju Piala Dunia 2026(Sumber poto:instagram PSSI)

Untuk kali pertama dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia, negara ASEAN lolos dari lubang jarum ronde tiga, Indonesia negara yang menciptakan sejarah tersebut, dengan point 12 akhirya timnas mampu berada posisi ke empat dan berhak menuju ronde ke empat untuk memperebutkan dua tiket langsung,atau punya peluang play off jika berada di posisi runner up.

Meyakini timnas bisa melewati Arab Saudi dan Irak, apalagi dukungan mengalir deras dari orang nomor satu di Indonesia.Setelah memastikan masuk ronde empat,Presiden Prabowo mengundang punggawa timnas di rumah pribadi dan menghadiahkan jam tangan Rolex GMT- Master II. 

Namun saat pertandingan pertama ronde empat melawan tuan rumah,timnas dipaksa bertekuk lutut melawan anak asuh Herve Renard, The Green Falcon menang tipis 3-2 dan meraih tiga point,anak asuh Patrick Kluivert hanya mampu sepuluh kali tendangan ke arah lawan, lima diantaranya shot on target.

Selain itu Tom Haye yang biasanya menjadi jenderal lapangan tengah, main di babak kedua saat tertinggal 3-1. Pelatih timnas seakan kebingungan meracik formula paten,agar pemain bisa mengeksplor lebar lapangan,di gadang gadang pengganti STY adalah deretan pemain terbaik.

Namun justru permainan timnas makin kedodoran, pada akhirnya di ronde keempat,timnas berada di posisi juru kunci dengan nol point,kalah 3-2 melawan Arab Saudi,kemudian kalah kembali saat jumpa Irak dengan skor 1-0.Alhasil langkah timnas terkubur menuju Piala Dunia.

Sialnya lagi deretan tim kepelatihan asa Belanda ogah nyamperin penonton, tak pelak para pendukung timnas menggemakan nama Shin Tae Young usai laga.Apesnya lagi mereka enggan ke Jakarta usai gagal di Arab Saudi, di gadang gadang mampu meladeni Arab Saudi dan Irak, timnas yang kita cintai dipecundangi lawan lawannya.

Memaknai Tangisan Tom Haye

Tom Haye tersungkur setelah timnas tersingkir dari ronde empat kualifikasi Piala Dunia 2026(sumber poto CNN Indonesia/Reuteur)

Nasi sudah menjadi bubur,publik sepak bola tanah air,sejak awal mempertanyakan pergantian mendadak STY, makin bertanya kenapa harus terjadi dan akhirnya dengan pelatih baru pun,timnas gagal melewati fase ronde empat. Tembus Piala Dunia belum terwujud, meski pemain keturunan banyak dari Belanda,namun pelatih Belanda gagal meracik kekuatan timnas.

Usai laga melawan Irak, pengatur serangan lini tengah yang lahir 9 Februari 1995, menangis tersedu sedu, terlihat pemain Persib Bandung ini terpukul dengan dua kekalahan,linangan air mata dan ekpresi kekecewaan begitu melekat, pencetak dua gol untuk timnas seakan larut dalam kesedihan.

Tahun ini Tom Haye menginjak usia 30,bagi atlet sepak bola usia tersebut masuk usia senja, kesempatan mencicipi gelaran Piala Dunia terasa menjauh. Selain Tom Haye yang menangis begitu pilu,dia adalah Calvin Verdonk.Pemain dengan spesialisasi bek kiri, terlihat murung setelah tahu bahwa negara yang ia bela tak berhasil menuju Piala Dunia.

Dari dua pemain keturunan ini, kita belajar bahwa meski tak terlahir di tanah air,namun kecintaan akan Indonesia tidak diragukan. Bersama pemain lokal binaan liga domestik,mereka bahu membahu mengangkat harkat sepak bola Indonesia menuju pentas dunia.

Oktober masih beberapa hari lagi, namun luka dan tangis penggemar sepak bola negeri ini,serasa susah terhapus.Dalam hal ini kita semua merasa kecewa, bulan Oktober menorehkan lara yang mendalam,namun bukan berarti meratap,saatnya bangkit kembali Garudaku!



 




Comments

Postingan Populer

Makin Seru Mainkan E-Sport Dengan Koneksi IndiHome

RT 03 Juara Umum Liga SKI 2025

Lima Manfaat Gowes Nan Dahsyat,Nomor Tiga Gokil Abis